|
BILA SI KECIL TAK MAU TAMPIL
KOMPAS.com - Putri Anda
menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan
kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari,
atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian
untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di
belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan tawaran
untuk didampingi oleh temannya pun ditolak. Alhasil, kesempatan itu pun
terlewati.ADVERTISEMENT
Memang tidak semua anak
memiliki keberanian untuk tampil di panggung. Tapi, menurut Rahmi Dahnan,
Psi., psikolog dari Kita dan Buah Hati, kondisi ini masih tergolong
wajar dan dapat diterima. Sebab pada sebagian orang baik pemalu maupun
tidak, beberapa situasi akan membuatnya mengalami rasa malu. Misal,
ketika bertemu dengan orang yang baru saja dikenal, tampil di depan
orang banyak, atau saat menghadapi situasi yang baru (seperti, sekolah
baru, pindah rumah baru, kantor baru). Jadi jika ada di antara anak
prasekolah yang merasa malu untuk tampil di panggung atau dalam acara
sekolah, sesungguhnya masih tergolong wajar.
Malu vs. percaya
diri
Ketika si prasekolah
tidak berani tampil di panggung atau acara terbuka lainnya di hadapan
orang banyak, umumnya ada dua penyebabnya. Pertama, si prasekolah kurang
memiliki rasa percaya diri. Kedua, memang anak tersebut memilki sifat
pemalu.
Untuk membedakan antara
anak yang tak berani tampil karena memiliki sifat pemalu atau kurang
percaya diri, tentunya dituntut kepekaan orangtua. Cara pengamatannya
cukup sederhana. Untuk anak yang kurang percaya diri umumnya sifat
pemalu itu tidak menetap. Maksudnya, anak hanya tidak berani tampil pada
kesempatan tertentu saja. Misal, ketika kurang persiapan atau
penontonnya terlalu banyak.
Sedangkan untuk anak
yang memang memiliki watak atau sifat pemalu, bila diamati maka watak
atau sifat itu akan menetap. Jadi si anak dalam berbagai kesempatan akan
selalu menarik diri karena malu. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di
lingkungan rumah sendiri atau bahkan di lingkungan keluarga. Menurut
Swallow, seorang pakar psikiater anak, ada 10 hal yang biasanya
dilakukan atau dirasakan anak pemalu. Di antaranya, menghindari kontak
mata, memperlihatkan perilaku mengamuk (temper tantrum) untuk melepaskan
kecemasannya, tidak banyak bicara, tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan
di kelas, tidak mau meminta pertolongan atau bertanya kepada orang yang
tidak dikenalnya, menggunakan alasan sakit agar tak berhubungan dengan
orang lain (misalnya agar tidak pergi ke sekolah), bahkan merasa tidak
ada yang menyukainya.
Bila kurang percaya
diri
Anak yang tidak berani
tampil karena kurang memiliki rasa percaya diri, umumnya dapat diatasi.
Dengan memberikan stimulasi yang tepat dan rutin, niscaya anak dapat
mengatasi rasa percaya dirinya. Untuk itu menjadi tugas orangtua untuk
menumbuhkan rasa percaya diri si anak. Ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan:
*Lakukan persiapan
sebelum acara dimulai. Berikan penjelasan suasana acara yang akan
diikuti. Tak ketinggalan, tahapan atau langkah yang harus dilakukan pada
acara tersebut. Bila perlu, ajak anak untuk tiba di lokasi 10 – 15 menit
sebelum acara dimulai, sehingga si prasekolah dapat memperoleh gambaran
suasana acaranya. Ini akan membantu si prasekolah dalam menyesuaikan
diri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
* Bila perlu berikan
contoh. Anak prasekolah mempelajari sesuatu dengan meniru atau mencontoh
dari lingkungannya. Untuk itu, orangtua pun hendaknya dapat memberikan
contoh bersikap atau berperilaku di tengah keramaian. Misal, cara
bertegur sapa dan bergabung dengan teman-teman dalam kelompok tersebut.
Bila anak mau melakukan, berikan penghargaan. Misal, “Mama bangga lho…Ternyata
adek berhasil bergabung dan mengobrol dengan asyik sama teman-temannya.”
Atau, kalau ingin
menumbuhkan keberanian anak ketika akan mengikuti lomba, sesekali
orangtua hendaknya juga jadi peserta lomba dan ajaklah anak untuk
mengamati gaya atau perilaku orangtuanya saat mengikuti lomba.
* Berikan kesempatan
pada anak untuk menyatakan pilihan atau keinginannya. Contoh, ketika
memilih model busana, makanan atau potongan rambut. Menghargai
pilihannya dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Berikan stimulasi
dengan dukungan dari lingkungan
Untuk penyebab yang
kedua yakni pemalu, orangtua hendaknya bersikap lebih berhati-hati.
Sebab ada penelitian yang menyatakan bahwa watak pemalu ini bersifat
bawaan atau keturunan. Hal yang patut diwaspadai oleh orangtua bila
sifat pemalu ini berubah menjadi masalah. Karena, bila dibiarkan sifat
ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan tidak berkembang
optimal.
Ketika orangtua
mengetahui anaknya pemalu dan menyebabkan si anak tidak memiliki
keberanian untuk tampil, sebaiknya sikap yang ditunjukkan adalah
menerima sifat pemalu tersebut apa adanya tanpa mempermasalahkannya.
Langkah selanjutnya, orangtua hendaknya juga mendorong anak untuk
mengatasi rasa malunya, sehingga akan tumbuh rasa percaya dirinya.
Berikut beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sifat pemalu pada si prasekolah:
1. Dorong anak untuk
bergabung dengan klub atau aktivitas yang menarik minatnya. Mungkin
musik, ilmu pengetahuan, apa saja sepanjang bidang yang diminati. Cara
ini dapat menciptakan kesempatan-kesempatan agar terbentuk hubungan yang
familiar dan nyaman dengan kelompok-kelompok yang lebih besar.
2. Tidak mengolok-olok
atau membicarakan sifat pemalu anak di depannya. Pembicaraan seperti itu
dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak diterima sebagaimana
adanya.
3. Ketahui kesukaan dan
potensi anak. Doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu,
melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka menyanyi maka
kembangkan hobinya. Bila perlu ikutkan dengan kursus atau latihan vokal
agar kemampuannya semakin bertambah..
4. Mengajak anak
berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara. Buatlah jadual berkunjung
ke rumah teman, tetangga, kerabat, dan bermainlah di sana. Kunjungan
sebaiknya dilakukan pada lokasi yang berbeda. Atau, ajaklah anak-anak
tetangga atau teman-teman sekolahnya untuk bermain di rumah.
5. Bermain peran
bersama anak. Misalnya, anak belum berani tampil di panggung, sekalipun
didampingi temannya. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak
bisa bermain peran seolah-olah sedang ada pertunjukkan, anak akan tampil
menari di atas panggung atau menari sambil didampingi temannya. Bermain
peran dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura, di toko,
berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.
6. Jadilah contoh buat
anak. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya
sendiri. Untuk itu, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya
diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku percaya diri.
(Utami Sri Rahayu) |