| |
Percakapan Bermakna
Coaching didefinisikan secara luas sebagai “percakapan bermakna" yang
dilakukan dengan menerapkan keahlian spesifik, dan yang dilandasi oleh
sikap, pola pikir, dan tujuan untuk memfasilitasi seseorang dalam
membangun atau mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri yang
diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan meraih potensi yang dimiliki”.
Dalam definisi ini, coaching diartikan bukan sebagai suatu proses, tapi
suatu sikap atau perilaku dan pola pikir. Perilaku dan pola pikir ini
harus melandasi setiap situasi dan proses yang menyangkut kerja sama
team, konseling, mentoring dan pelatihan. Percakapan bermakna
didefinisikan sebagai pertukaran informasi yang memberi manfaat bagi
kedua belah pihak yang terkait yang tujuannya antara lain untuk
melancarkan penyelesaian suatu penugasan, memperat hubungan kedua belah
pihak dimana setiap pihak berpartisipasi aktif dalam percakapan, merasa
didengar dan dipahami.
Coaching pada umumnya meliputi beragam aktivitas, mulai dari penilaian
hingga penetapan tujuan, penyusunan rencana kegiatan, penyusunan rencana
pengembangan, atau pemecahan masalah. Coaching juga meliputi berbagai
jenis percakapan mulai dari memberi advis hingga mengajukan pertanyaan
kepada coachee atau mengidentifikasi berbagai alternatif solusi yang
tersedia. Perlu digarisbawahi bahwa untuk situasi yang berbeda
diperlukan bentuk percakapan bermakna yang berbeda. Masalah yang umum
dijumpai, kebanyakan percakapan yang terjadi pada saat diskusi evaluasi
kinerja cenderung mengarah kepada sikap menggurui, memberi saran, atau
memberi solusi. Perlu ditekankan bahwa coaching adalah bentuk dialog
alternatif yang lebih sesuai dalam situasi pengembangan karir karyawan
dan pembinaan hubungan baik yang lebih sehat yang dilandasi oleh rasa
saling percaya, keterbukaan, dan kerahasiaan. Namun, penulis tidak
bermaksud untuk mengatakan bahwa bentuk percakapan selain coaching
adalah salah – ini adalah masalah memilih metode yang sesuai untuk
situasi yang berbeda.
Sebagai salah satu metode percakapan yang bermakna yang dilandasi oleh
sikap dan pola pikir serta satu set kemampuan yang diterapkan untuk
memfasilitasi orang lain dalam membangun kemampuan dan rasa percaya diri
untuk meningkatkan kinerja dan meraih potensi, coaching dapat diterapkan
dalam berbagai situasi berbeda yang memerlukan terpeliharanya suatu
hubungan baik yang sehat dan kondusif. Contoh penerapan coaching adalah
dalam situasi counselling, mentoring, magang, pengembangan kemampuan
melalui penugasan, maupun dalam membentuk suatu tim untuk penugasan
tertentu.
Pilar Penting
Mengadopsi pendekatan coaching secara holistik dapat membantu perusahaan
dalam memposisikan diri sebagai “employer of choice” di bursa tenaga
kerja global. Coaching adalah suatu enabler bagi kebutuhan pengembangan
karir karyawan, membantu karyawan mentransformasikan keahlian dan
pengetahuan baru yang diperoleh dari pelatihan dan pengalaman ke dalam
penerapan praktis di lapangan pada peran mereka di posisi sekarang
sekaligus mendukung peningkatan karir mereka di perusahaan.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, coaching perlu ditempatkan dalam
konteks yang luas, yaitu percakapan bermakna. Percakapan adalah landasan
pembentukan budaya perusahaan dan mendemonstrasikan nilai-nilai
perusahaan yang sesungguhnya. Perusahaan menetapkan proses, kebijakan,
dan prosedur dengan menggunakan bahasa. Pilihan bahasa yang digunakan
inilah yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut dalam memandang makna
hubungan antara perusahaan dengan karyawan, serta makna kerja sama tim.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa “bahasa” yang digunakan dalam
percakapan membentuk budaya.
Coaching adalah suatu mekanisme yang dapat membantu usaha perubahan
budaya perusahaan untuk menjamin tercapainya tujuan perusahaan sebagai
organisasi yang berorientasi kepada manusia (people focus), yang
mengutamakan elemen pengembangan kompetensi, dan inclusiveness. Untuk
lebih jelasnya, berikut ini diuraikan contoh “bahasa” yang digunakan di
dalam perusahaan yang mencerminkan budaya coaching:
-- Setiap individu mempraktekan kemampuan “mendengar secara aktif”
(active listening) dalam setiap percakapan bermakna yang dilandasi oleh
ketertarikan yang tulus dan kemauan untuk memahami potensi terpendam
karyawan.
-- Setiap individu menjadi lebih peduli untuk menggali kekuatan otentik
dalam berinteraksi dengan pihak lain
-- Setiap infividu membangun hubungan yang dilandasi oleh rasa saling
percaya dan saling menghargai
-- Setiap individu berkomunikasi secara efektif dengan cara menyesuaikan
metode percakapan yang sesuai untuk situasi yang berbeda
-- Setiap individu menghargai perbedaan dan keunikan individu dan
menunjukkan sensitivitas terhadap keberagaman budaya.
Lebih lanjut lagi, kemampuan percakapan seperti yang dicontohkan di atas
juga sangat bermanfaat dalam membina dan menjaga hubungan dengan klien.
Kuncinya adalah mampu mengidentifikasi kapan perlu menerapkan metode
coaching dan dalam situasi apa perlu diterapkan metode lain.
Penulis adalah praktisi manajemen HR dan People Development, mantan
Direktur HR Ernst & Young Indonesia.
|
|