| |
A MOMENT OF TRUTH
InfoBankNews.com - Jakarta,
Ternyata belum banyak industri jasa di Indonesia, khususnya perbankan,
yang memanfaatkan prinsip moment of truth. Tapi, diperlukan dalam
kurikulum pelatihan reguler di bank-bank.
Chairuman Armia
PERNAHKAH
Anda tertarik kepada seseorang pada pertemuan pertama dan Anda
serta-merta terkesan terhadap orang tersebut secara keseluruhan?
Kemudian, terbentuklah persepsi Anda terhadap orang tersebut. Ya, dia
orang baik. Atau, sebaliknya, Anda tidak begitu tertarik terhadap orang
tersebut.
Kalau dia itu seorang gadis, jadilah apa yang disebut love at the first
sight. Secara spontan, Anda tertarik terhadap gadis tersebut secara
keseluruhan? Ya, Anda suka dia atau Anda tidak suka dia tanpa meneliti
secara detail keadaan keluarganya, rumah tangganya, dan sebagainya.
Dalam behavioral science, itu disebut ahlo effect, yakni first
impression (kesan pertama) terhadap sesuatu orang/objek dan dengan dasar
itu menarik kesimpulan mengenai orang/objek tersebut. Secara metafora
disebut moment of truth. Dalam service marketing, terutama dalam bisnis
jasa, moment of truth merupakan paradigma yang relatif baru sebagai
salah satu cara memenangi kompetisi global dewasa ini.
Filosofi moment of truth sebenarnya bukanlah pengertian yang terlalu
baru dilihat dari faktor waktu. Pengertian tersebut digali dan
diterapkan pertama kali oleh Jan Carlzon saat memimpin SAS Airline
sekitar 1984. Dia berhasil dengan sangat gemilang. SAS menjadi maskapai
penerbangan terkemuka dengan membuat keuntungan yang fantastis. SAS
tidak hanya maju di negara-negara Skandinavia tapi juga di seluruh Eropa.
Konsep ini kemudian dijabarkan lebih luas dan lebih dalam oleh para ahli
human resource management, organization teory, behavioral sciences pada
umumnya, dan secara khusus merupakan salah satu tema pokok dalam service
management.
Pada 15 detik pertama pada pertemuan antara seorang penumpang
(passenger) dan frontline people dari ticket agent sampai dengan flight
attendant terbentuklah citra perusahaan secara keseluruhan dalam pikiran
customer. Dengan kata-kata Tom Peters yang menggambarkan moment of
truth: “…. The first 15-second encounter between a passenger and
frontline people…. Sets the tone of theen trie company in the mind of
customer”.
Sebuah contoh dikemukakan Jan Carlzon dalam bukunya, Moment of Truth
(1987). Dikatakannya, dalam setahun, ada 10 juta customer yang
berhubungan atau kontak dengan kira-kira lima karyawan frontline SAS dan
kontak ini berlangsung rata-rata 15 detik per customer.
Dengan demikian, SAS menciptakan 50 juta kontak dalam setahun dan
masing-masing kontak berlangsung 15 detik. Dengan perkataan lain, ada 50
juta moment of truth yang terjadi di SAS Airline dalam satu tahun.
Moment of truth yang 50 juta kali inilah yang pada hakikatnya menentukan
apakah SAS akan berhasil atau gagal sebagai maskapai penerbangan yang
dipimpinnya. Jan Carlzon mengatakan, ini adalah saat-saat ketika dia
akan membuktikan kepada pelanggannya bahwa SAS adalah pilihan mereka
yang terbaik.
Pernahkah Anda terbang dengan Singapore Airline? Bagaimana perasaan Anda
ketika pertama kali dilayani pramugarinya? Anda serta-merta tertarik
dengan keramahtamahannya dengan senyumannya yang tulus dan murni? Bukan
senyuman yang dipaksakan? Kemudian, terpatri di hati Anda bahwa
Singapore Airline adalah maskapai penerbanan yang bagus, aman, ontime,
dan dapat dipercaya. Kalau Anda akan bepergian lagi, Anda kembali
memilih SQ walaupun biayanya jauh lebih mahal daripada airline-airline
lain.
Sebagai ilustrasi, ada baiknya dikemukakan di sini tentang seorang
penumpang SAS Airline yang akan berangkat dari Stockholm ke Kopenhagen
untuk sebuah pertemuan bisnis (business meeting) penting. Tiket dia
rupanya tertinggal di hotel tempatnya menginap dan baru diketahui begitu
akan check-in di airport.
Pesawat akan segera berangkat pagi itu. Itu merupakan pesawat SAS
satu-satunya pada hari itu yang berangkat ke Kopenhagen. Dia sudah putus
asa tidak bisa berangkat pagi itu dan tidak bisa menghadiri pertemuan
penting tersebut.
Namun, ketika dia menjelaskan masalahnya kepada ticket agent, dia sangat
terkejut (surprise) karena mendapat jawaban yang tak diduga-duga.
Dengan senyum, ticket agent mengatakan kepada penumpang tersebut untuk
jangan khawatir tidak berangkat. Sambil menyodorkan boarding pass dengan
menyisipkan tiket sementara, ticket agent mengatakan kepada penumpang
tersebut untuk memberi tahu di hotel mana dia menginap dan di kamar
nomor berapa.
Sebelum pesawat take off, tiket aslinya ternyata dapat diambil dan
diserahkan kepada penumpang tersebut di passenger waiting lounge. Anda
bisa bayangkan betapa terkejutnya si penumpang tersebut.
Kasus seperti yang terjadi di SAS Airline hanya mungkin dalam organisasi
yang berorientasi pada pelanggan (customer oriented company). Untuk
menjadi organisasi yang berorientasi kepada pelanggan perlu dilakukan
perubahan organisasi, yang ekstensif, terutama pada bagian frontline
employees. Struktur organisasi perlu dirombak menjadi struktur yang flat
dengan menyederhanakan jumlah layers (lapisan) organisasi, sehingga
rentang hierarki menjadi lebih pendek. Decision making point harus
ditarik ke bawah ke frontliners.
Keberhasilan Jan Carlzon dengan moment of truth-nya melahirkan satu
bentuk organisasi bisnis yang secara fundamental mengubah struktur
organisasi yang sudah ada. Perubahan yang dimaksud adalah dari
organisasi yang layered pyramid dengan pointed top (organsiasi yang
berlapis-lapis dengan puncak yang lancip) menjadi organisasi yang
flattened (datar) dengan span of control yang kecil.
Perubahan organisasi yang sangat fundamental ini harus dimotori oleh top
executive yang secara terus-menerus mengomunikasikan dan menanamkan
kepada karyawan mengenai visi perusahaan yang baru dan mendengarkan apa
yang diperlukan mereka agar visi ini dapat terwujud.
Perwujudan filosofi moment of truth membutuhkan pelatihan dan perubahan
sikap dan cara berpikir para karyawan yang bertugas di frontliner, yakni
mereka yang kontak langsung dengan customers. Seperti dijelaskan di atas,
karyawan frontliners harus dilengkapi dengan (1) training yang intensif
mengenai seluk-beluk tugas yang akan dijalankannya, (2) wewenang untuk
mengambil keputusan, dan (3) tersedianya resources, baik berupa data,
informasi, maupun finansial. Wewenang untuk mengambil keputusan tidak
akan efektif kalau karyawannya tidak mempunyai resources yang tersedia
yang dapat digunakannya.
Karyawan yang akan ditempatkan di frontliner harus dipilih secara sangat
selektif untuk mendapatkan tenaga-tenaga yang bisa diandalkan, dapat
dipercaya, dan bisa berhubungan dengan customers secara simpatik dan
menarik. Kalau dia tersenyum tidak dibuat-buat. Tentu senyum murni yang
datang dari lubuk hatinya yang dalam.
Dia harus cerdas, cepat menangkap apa yang disampaikan customers,
cekatan dalam bertindak, dan mempunyai pengetahuan mengenai visi dan
misi perusahaan. Dia harus berani memperhitungkan risiko, baik finansial
maupun reputasi perusahaan. Inilah yang disebut empowerment.
Kalau dia harus mengambil keputusan yang akan menyerempet-rempet
ketentuan perusahaan, semua itu akan dilakukannya dengan penuh prudence
(kehati-hatian). Mereka inilah yang bisa membangun citra perusahaan yang
positif melalui berjuta moment of truth. Bagi customer-oriented company,
satisfied customers adalah aset perusahaan.
Paradigma moment of truth bukan hanya berlaku untuk industri penerbangan
melainkan berlaku secara universal untuk semua bentuk usaha, terutama
industri jasa. Prinsip ini belum banyak dimanfaatkan industri jasa di
Indonesia, khususnya industri perbankan. Masih dijumpai teller yang
berbincang dengan kolega teller lain, sementara customer menunggu
persis di depannya. Atau, customer service officer (CSO) kurang simpatik
atau tidak sabar melayani tamunya.
Berdasarkan observasi kami, senyum yang menarik yang seakan-akan sudah
merupakan bagian tak terpisahkan dari dirinya belum banyak dijumpai di
kalangan frontliners perbankan maupun industri jasa lainnya. Saya kira,
sudah saatnya memasukkan topik moment of truth di dalam kurikulum
pelatihan reguler di bank-bank. Untuk recruiters tenaga-tenaga baru
perlu disampaikan bahwa calon karyawan yang baru harus mempunyai
kepribadian yang menarik dengan senyum manis yang selalu tersungging di
bibirnya.
Penulis adalah Direktur Institute of Service Management Studies.
|
|