|
Menyikapi Kritik
Terjemahan bebas dari materi oleh: Chuck Gallozzi
Kritik sering kali menjadi
musuh besar kita. Berapa banyak dari kita yang langsung bereaksi tidak
sehat manakala kritik menerpa? Apa yang terjadi saat kita mengkritik?
Bagaimana menyikapi kritik?
LUKA YANG KITA BUAT
Bayangkanlah kita menikam
dada orang yang kita cintai.
Saat bilah pisau itu
terbenam ke dalam dadanya, ia tersedak mencoba menghirup udara, ia
mencoba meraup apa yang masih bisa digapainya. Dengan liar, wajahnya
menyemburkan teror dan ketakutan. Memancarkan kesakitan yang teramat
sangat pedih rasanya. Ia mulai kehilangan darah, dan ia mulai mengalami
shock yang parah. Ia pun terjatuh. Sekarat dan bersimbah darah.
Mungkin ia masih beruntung,
karena ada yang sempat mengantarnya ke rumah sakit dengan ambulan. Tapi
sekalipun ia akan sembuh dari penderitaannya, dadanya tetap akan
menyisakan goresan luka besar yang tidak sedap untuk semua mata.
SENJATA ITU ADALAH KRITIK
Tak terbayangkan bahwa Anda
akan mampu melakukannya. Dan jikapun Anda tetap melakukannya, segera
setelah Anda menyadari apa yang telah Anda lakukan, yakinlah; Anda tidak
akan pernah mengulanginya.
Begitulah, mungkin hampir
setiap hari, banyak dari kita yang terus dan lagi-lagi, menikam
orang-orang yang kita cintai. Kita menggunakan pisau yang tak terlihat,
pisau yang tidak membuat darah muncrat. Senjata itu adalah senjata
pilihan. Dan pilihan itu adalah KRITIK. Luka yang kita buat, sama dalam
dan pedih seperti luka oleh pisau dari baja.
KRITIK ADALAH MESIN PENGHANCUR
Kritik yang kita lontarkan
merontokkan rasa percaya diri. Orang yang kita kritik merasa tak
dicintai lagi. Mereka mulai masuk ke alam yang penuh dengan
keragu-raguan. Dan sebelum luka mereka sempat sembuh kembali, Kita
menikamnya lagi, dan lagi. Tepat di tempat yang sama.
KRITIK ITU MENIPU
Mengapakah kita bisa
menjadi begitu sadis pada orang-orang yang kita cintai? Kita telah
tertipu, karena bilah yang di tangan dan luka yang kita buat tak pernah
terlihat nyata. Mengapakah kita bisa menjadi begitu jahat dan dengki?
Jawabnya, adalah karena rasa tak aman kita sendiri.
BAYANGKAN BILAH PISAU ITU
Bagaimanakah kita bisa
memperbaiki diri? Saat kita mulai merasa melakukan pembantaian terhadap
orang lain, dengan kata-kata yang pedas dan sengit, dengan ungkapan yang
tajam bak bilah pedang, dengan suara dan kata yang membakar jiwa serta
semangat,
berhentilah sebentar, dan
bayangkanlah senjata kita itu menjadi nyata.
Dan jika kita bisa melihat,
luka seperti apa yang akan kita buat, stop!
KRITIK DILAKUKAN DENGAN KATA
Kita sering tidak
menyadarinya. Contoh: kata "tapi."
"Lihatlah Ayah, Saya dapat
nilai A untuk olah raga di raport Saya." Ayah menjawab, "Wow.. itu bagus
sekali anakku, TAPI, kamu dapat C untuk matematika."
Kata "tapi" adalah tombol
"cancel" atau tuts "esc" di pojok kiri atas keyboard komputer kita. Kata
itu membatalkan semua puja dan puji yang telah kita lontarkan sebelumnya.
Dan tidak lebih, pembicaraan di atas telah berubah jadi begini.
"Lihatlah Ayah, Saya pintar
di sekolah." "Tidak. Kamu goblok!"
HARGAI SEKECILPUN APA-APA
Bandingkan jika respon itu
diubah lebih baik dengan menjadi begini.
"Wow.. itu bagus sekali
anakku, nanti Ayah bilang sama Ibu betapa pintarnya kamu. Pertahankan ya."
Ia akan terinspirasi dan
berupaya lebih keras untuk matematikanya, karena ia ingin menangguk
lebih banyak puji dan puja, dari orang-orang yang dicintanya. Itu lebih
baik ketimbang ia jadi merasa tak berguna karena "tapi" dari mulut Ayah
atau Ibunya.
JIKA ANDA DIKRITIK
-
Jadikan kritik sebagai
sarana belajar. Yaitu, INGAT RASA LUKANYA, dan berupayalah untuk
tidak melakukannya pada orang lain;
-
Ingat bahwa PISAU YANG
DIGUNAKAN TIDAK TERLIHAT, itulah sebab mereka tak menyadari luka
yang dibuatnya. Maafkan mereka;
-
INGAT LUKA MEREKA. Saat
seseorang menjadi sengit, sadis, kasar atau tidak bertenggang rasa,
mereka tidak membenci Anda. Mereka mengalami derita akibat sesuatu
di dalam dirinya. Jika mereka mengumpat, bukanlah Anda yang diumpat.
Yang mereka tuju adalah sesuatu di dalam diri mereka, yang tak
pernah ditunjukkan atau diceritakan. Mungkin itu orang lain yang
telah kejam kepada mereka. Mungkin itu sesuatu yang telah
mempermalukan mereka;
-
SETIAP ORANG TIDAK SAMA.
Itulah berkah Tuhan. Pahami mereka sebagai manusia yang
masing-masingnya tidak sama;
-
Setelah Anda menerima
kritik, BERTERIMAKASIHLAH PADA MEREKA atas nasehatnya. Berjanjilah
untuk mempertimbangkan apa yang mereka katakan. Dengan
berterimakasih, Anda telah melucuti senjata mereka, antagonismenya,
dan mengakhiri bicara dengan damai dan melegakan;
-
LUPAKAN. Orang yang
mengkritik Anda mungkin tidak kompeten, penuh curiga, atau cemburu
buta. Jika demikian, setelah berterimakasih kepada mereka, lupakan
semuanya;
-
EVALUASI KRITIK MEREKA.
Mungkin mereka tidak objektif. Tapi mungkin juga ada poin mereka
yang memang benar. Gunakan pengalaman ini sebagai kesempatan untuk
tumbuh. Ingat, Anda tidak sempurna. Belajarlah dari mereka kapan
saja dan di mana saja. Tapi jangan, jadikan itu alasan untuk
mengkritik orang lain.
Bahaya kritik bukan pada
kritiknya, tapi pada karakternya yang bisa memunculkan siapa Anda
sebenarnya.
Dicopy dari:
milis-bicara.blogspot.com
*******
|