|
Menangani Audience
sulit
Diane
DiResta, Presiden DiResta Communications, Inc.
Disarikan dari "Knockout Presentations" (Chandler House Press) HBA
Bulletin
Anda telah siap. Anda naik
ke podium, memulai pembicaraan dan "duer!, jleger!, bledug!" - Anda
diserang oleh audience yang ganas. Bagaimana Anda bisa tetap tenang dan
mengambil kontrol kembali?
Saat saya mulai menjadi
konsultan, Saya ingat tentang tugas pertama Saya. Tugas Saya adalah
mendisain dan menyampaikan seminar tentang keahlian menulis dan
presentasi untuk 30 orang calon MBA.
Hari besar itu tinggal
sehari lagi dan saya sudah siap dengan materi Saya. Hanya saja, ada hal
kecil. Pihak kampus menjadwalkan bahwa ujian yang berkaitan dengan
materi Saya itu, dilaksanakan sehari setelah sesi seminar Saya.
Secara alamiah, para calon
MBA itu berpikir bahwa mereka harus belajar sehari sebelum hari ujian.
Dan lebih parah lagi, Saya hanya diberi kesempatan mengisi sesi itu
selama satu jam. Biasanya, materi Saya harus "dimakan" seharian penuh.
Merekapun berhamburan ke kantor administrasi dan mengancam akan
memboikot kelas.
Pada jam empat hari itu,
manajemen kampus memanggil Saya dan berkata, "Diane, Saya tidak ingin
ada persoalan apapun besok." Kemudian Saya menemui penanggung jawab yang
mendatangkan Saya, dan mencoba meyakinkannya untuk menjadwal ulang sesi
Saya. Dia menolak.
Saya tidak tidur malam itu
sambil memeras otak untuk mencari sebuah solusi. Jika Saya beralasan
sakit, Saya akan kehilangan satu klien. Akan tetapi, saya juga tidak mau
melangkah masuk ke kandang harimau. Akhirnya, Saya menemukan solusi yang
Saya sebut dengan "Strategi 3D" - Depersonalize, Detach, Defuse.
Apakah Anda menangani tim,
menjalankan meeting, atau memberikan presentasi oral, tidaklah cukup
hanya dengan menguasai materi. Anda juga harus bisa menangani proses.
Dinamika kelompok selalu berubah dan berurusan dengan sebuah tim bisa
menghabiskan banyak energi. Seorang pemimpin atau fasilitator harus
mampu mengubah perspektif dan menggunakan tidak hanya satu strategi.
LANGKAH PERTAMA
Langkah pertama adalah
depersonalisasi. Setiap audience datang dengan bagasi emosionalnya
masing-masing. Seorang perempuan bisa saja keluar meninggalkan sebuah
sesi motivational speaking hanya karena pembicaranya memakai pakaian
Elvis, karena dia tidak suka Elvis. Kepergiannya itu tidak berhubungan
dengan kemampuan atau bakat sang pembicara. Pelajarannya? Jika Anda
bertemu dengan audience yang kritis, sulit atau ganas, jangan diambil
hati.
LANGKAH KEDUA
Langkah kedua adalah
pembebasan atau detach. Artinya, jangan libatkan ego. Sekali Anda masuk
ke pembicaraan secara orang per orang, dan orang yang hadapi adalah
seorang biang kerok, maka Anda telah menciptakan sebuah dinamika
kompetitif. Jangan biarkan emosi Anda lepas kontrol. Ajukan berbagai
pertanyaan yang bisa menghasilkan pengertian, pemahaman dan permakluman.
Jangan mengambil sikap bertahan.
LANGKAH KETIGA
Langkah ketiga adalah
perlucutan. Hilangkan energi negatif. Salah satu alat perlucutan yang
terbaik adalah humor. Jika Anda merasa tertekan, energi negatif akan
meningkat. Ambil pendekatan yang ringan, mudah dan menyenangkan. Anda
tidak bisa tertawa dan marah pada saat yang bersamaan. Anda harus
memilih.
MENANGANI SIKAP BERTAHAN
Untuk bisa menghadapi
audience yang sulit, mulailah mengenali tanda-tanda pertahanan. Apakah
mereka mulai sering berbicara dengan orang di sebelahnya, terpaku
membaca materi, mengotak-atik HP mereka, menantang Anda, mengalami
kesulitan mengikuti pembicaraan, atau duduk dengan posisi tubuh tertutup
(memeluk badan, meletakkan tangan di tempat tertentu dari tubuhnya dan
sebagainya)? Jika Anda merasakan bahwa Anda mulai bekerja lebih keras,
maka kemungkinannya Anda sedang berhadapan dengan bentuk-bentuk
pertahanan. Sekali Anda bisa mengenali tanda-tanda ini, cari tahu dari
mana datangnya.
Pertahanan muncul dari
sebab-sebab berikut:
- Bagaimana melakukannya -
Berubah menjadi - Ingin menjadi
Apakah mereka bertahan
karena mereka tidak tahu bagaimana caranya berpartisipasi dalam sesi
Anda? Jika begitu, berikan instruksi yang lebih jelas tentang bagaimana
mereka bisa berpartisipasi.
Apakah mereka bertahan
karena merasa tidak punya kesempatan untuk terlibat secara produktif?
Sebagai contoh, katakanlah Anda telah meminta mereka berpartisipasi
melalui diskusi dengan partner di sebelahnya. Beberapa dari mereka
mungkin tidak menunjukkan respon. Bisa jadi, mereka belum mendapatkan
partner. Tolonglah mereka mendapatkan partner.
Atau, Anda meminta mereka
bekerja dalam tim dengan anggota empat orang, dan yang aktif hanya dua
orang. Bisa jadi, dua anggota yang pasif adalah orang-orang introvert
sementara dua yang aktif adalah extrovert. Mereka mungkin saja kesulitan
untuk terjun dan didengar. Jika kasusnya demikian, sediakan kesempatan
khusus untuk mereka.
Alasan terakhir untuk
sebuah pertahanan adalah kesenjangan dalam motivasi. Anda meminta
sukarelawan dan tidak seorangpun mengangkat tangan. Mungkin, mereka
belum melihat manfaatnya. Mungkin ada terlalu banyak "makanan" di "piring"
mereka, sehingga tidak mampu lagi menambah porsi penugasan. Mungkin,
mereka tidak ingin memasuki "wilayah" koleganya. Tugas anda, adalah
membantu mereka melihat nilai-nilai yang bisa diperoleh dari partisipasi.
Untuk mematahkan pertahanan,
gunakan pola-pola interupsi. Dengan kata lain, lakukan sesuatu dengan
cara yang berbeda. Goyang mereka, lakukan percepatan. Ceritakan sebuah
kisah. Buat mereka terlibat. Anak-anak yang sedang bermain adalah sebuah
contoh situasi tanpa pertahanan.
Apakah Anda sedang
melakukan sesuatu yang memperkuat pertahanan mereka? Apakah Anda terlalu
kaku? Apakah Anda mengikuti skenario yang sama sekali tak bekerja?
Apakah presentasi Anda membosankan? Apakah Anda menciptakan situasi yang
pembicara-sentris dan bukan berfokus pada mendengarkan kebutuhan dan
ketertarikan mereka? Apakah Anda bereaksi terhadap seseorang yang
menyulitkan atau merespon situasi secara keseluruhan?
TETAPKAN SETTING DAN ARAHNYA
Banyak sekali masalah bisa
dihindari dengan menetapkan harapan-harapan sejak dari awal. Bila orang
merasa tidak jelas tentang sasarannya, tentang peranannya, dan tentang
bagaimana mereka dievaluasi, perilaku-perilaku menyulitkan akan muncul.
Jika berbagai harapan bisa diidentifikasi dengan jelas, berikan
mekanisme feedback dari mereka dan dengarkan dengan seksama apa yang
mereka sampaikan. Jika seseorang merasa tidak didengar atau tidak
dihargai, maka orang itu akan memunculkan perilaku bertahan.
IDENTIFIKASI KARAKTER
Siapakah yang benar-benar
bisa menekan "tombol" Anda? Apakah seseorang yang merasa lebih tahu
segalanya, atau tukang komplain yang selalu menemukan kesalahan pada
setiap hal? Untuk tetap "cool" dan terkontrol, kenalilah
karakter-karakter yang bisa membuat Anda "meledak". Dengan
mengidentifikasi dan mempelajari mereka, Anda bisa memperkuat kemampuan
Anda.
JENIS-JENIS KARAKTER SULIT
Eager Beaver - Orang
ini secara aktif selalu menjadi yang pertama dalam berpartisipasi dan
dia berkeinginan membantu. Ia bisa menyulitkan orang lain karena terlalu
aktif. Jangan jatuhkan semangat orang ini. Akui partisipasi dan
kontribusinya, tapi dorong orang lain untuk ikut berpartisipasi.
Expert - Orang ini
menantang otoritas Anda; dan mendebat orang lain. Bisa jadi orang ini
benar-benar seorang expert yang membutuhkan pengakuan. Akui kepakarannya
tanpa sikap bertahan. Tetaplah bertanya pada orang lain yang bukan pakar
tentang pendapat mereka. Strategi jitu untuk para expert ini adalah
memainkan kepakaran mereka. Minta mereka menyampaikan pendapat dan
pandangan pakarnya. Dengan segera, mereka akan menjadi sekutu tangguh
dan siap menghadapi siapapun.
Rambler - Orang ini
adalah tukang cerita. Anda meminta waktu, Anda mendapatkan sejarah yang
kelewat lengkap lengkap. Untuk menangani seorang rambler, potong
bicaranya, intisarikan komentarnya, dan minta orang lain memberikan
pendapat. Jangan biarkan orang ini menjadi pembicara pengganti.
Poor Loser - Orang
ini tidak akan mengakui satu kesalahan pun. Mereka tidak mempunyai
kekuatan ego untuk mengakui kesalahan. Jangan sudutkan mereka. Ciptakan
"sepakat untuk tidak sepakat". Biarkan mereka menyelamatkan mukanya.
Dominator - Mereka
ingin mengontrol. Mereka bisa mengintimidasi seluruh audience dengan
memonopoli pembicaraan atau aktivitas. Jangan biarkan mereka mengambil
alih panggung. Jangan biarkan mereka melakukan kudeta. Gunakan humor.
Sebagai contoh, saat meminta respon, Anda bisa bergurau dengan
mengatakan, "Ayo! Siapa saja asal bukan Bambang!" Jika ini tidak
berhasil, istirahatkan sesi dan bicaralah pada orang itu secara
personal.
Side Conversators -
Dua atau lebih orang bisa terlibat dalam pembicaraan selama presentasi
Anda. Jika audience besar dan ruangan luas, abaikan saja. Tapi dalam
kelompok kecil, hal ini mengalihkan perhatian dari pembicaraan Anda.
Lakukan kontak mata dengan tukang ngobrol ini dan berhentilah bicara
sampai mereka menyadari. Anda bisa mengkonfrontasi mereka secara
langsung dan meminta mereka untuk berhenti bicara selama sesi Anda. Atau,
cobalah teknik berjalan. Berjalanlah ke arah mereka, berdiri di depan
mereka dan teruslah berbicara. Mereka akan menangkap maksud Anda.
Negative - Orang ini
sangat bertahan dan memandang negatif terhadap Anda, terhadap materi,
topik atau poin Anda, dan mereka tidak ingin berada di ruangan itu.
Mulailah mencari tahu latar belakangnya. Tawarkan untuk rekonsiliasi,
atau tawarkan untuk berdiskusi setelah sesi.
Complainer - Whiner
- Selalu menemukan kesalahan di mana pun. Sering mengeluh tapi tanpa
solusi. Mereka mungkin tidak bersikap negatif terhadap materi Anda, tapi
memang suka mengeluh. Inilah orang yang "Iya sih, tapi..." Jangan
terjebak pada permainan mereka. Ambillah alternatif. Tetaplah fokus dan
maju terus.
Hecklers - Cobalah
untuk mengabaikan pengacau ini. Jika mereka tidak mendapatkan respon
dari Anda, mereka mungkin akan menyerah. Jika Anda menerapkan retorika,
maka cara ini hanya akan mengundang mereka kembali lagi untuk
mengacaukan Anda. Berjalanlah ke arah mereka, letakkan tangan Anda di
pundak mereka dan terus bicara. Jangan menunjukkan sikap menyerang atau
meletakkan sesuatu selain tangan Anda. Atau, mintalah mereka
memperkenalkan dirinya - mereka biasanya lebih memilih menjadi NN.
Saat berurusan dengan
audience sulit, ingatlah bahwa perilaku yang mengganggu adalah cerminan
dari kebutuhan yang tak terpuaskan. Strategi terbaik Anda adalah rasa
humor dan sebuah pengertian tentang latar belakang perilaku itu. Nanti,
jika Anda menghadapi kasus yang sama, ambil sudut pandang 3D -
Depersonalize, Detach, and Defuse.
Dicopy dari: milis TCI
*******
|