|
Membangun
Keberanian dan Percaya Diri
LEBIH dari
lima ratus ribu pria dan wanita, sejak 1912, telah menjadi anggota
kursus berbicara di depan publik yang menggunakan metode saya. Banyak
dari mereka memiliki pernyataan tertulis yang memberitahukan mengapa
mendaftar pelatihan ini dan apa yang diharapkan darinya. Pada dasarnya,
fraseologi bervariasi; tetapi keinginan utama dari suratsurat ini,
keinginan dasar mayoritas orang, secara mengagetkan tetap sama:
“Ketika
dipersilahkan berdiri dan berbicara, saya menjadi sangat malu pada diri
sendiri. Sangat takut. Sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tidak
bisa konsentrasi. Tidak bisa mengingat apa yang ingin dikatakan. Saya
ingin memperoleh rasa percaya diri. Ketenangan. Dan kemampuan berpikir
bijaksana ketika berdiri. Saya ingin bisa mengatakan sesuatu dengan
jelas dan meyakinkan di depan kelompok bisnis, klub, atau pendengar.”
Ribuan pengakuan
mereka terdengar seperti itu.
Saya ingin
menyebutkan kasus yang kongkrit: Bertahuntahun yang lalu, seorang pria
yang di sini disebut Mr. D.W. Ghent, bergabung dengan kursus berbicara
di depan publik saya di Philadelphia. Segera setelah pembukaan dimulai,
dia mengundang saya makan siang dengannya di Manufacturers’ Club. Dia
seorang pria berusia tengah baya dan selalu menjalani kehidupan aktif.
Dia pimpinan perusahaan manufakturing miliknya. Bahkan dia pimpinan
kegiatan di gereja dan aktivitas yang berhubungan dengan kepentingan
umum. Ketika kami sedang makan siang hari itu, dia mendekati saya dan
mengatakan, “Saya telah diminta berkalikali berbicara di depan
sekelompok orang, tetapi belum pernah bisa melakukannya. Saya menjadi
begitu cerewet. Pikiran pun kosong. Maka saya mengelak terus. Tetapi
sekarang saya adalah ketua dewan pengawas perguruan tinggi. Saya harus
memimpin rapat. Saya harus berbicara beberapa patah kata. Menurut Anda,
apakah ada kemungkinan bagi saya belajar berbicara di akhir hidup saya?”
“Apakah saya
berpikir demikian, Mr. Glent?” jawab saya.
“Ini bukan
pertanyaan dari pemikiran saya. Saya tahu Anda bisa. Saya tahu Anda akan
bisa apabila belajar dan mengikuti pengarahan dan instruksi saya.”
Dia ingin
mempercayai hal itu.
Tetapi tampaknya
terlalu menyenangkan. Terlalu optimis. “Saya takut Anda hanya berusaha
bersikap baik,” jawabnya, “Anda hanya berusaha mendorong saya.”
Setelah dia
menyelesaikan pelatihan, kami tidak menjalin komunikasi satu sama lain
untuk sementara waktu. Akhirnya, kami bertemu dan makan siang lagi di
Manufacturer’s Club. Kami duduk di sudut yang sama dan memesan meja yang
sama dengan pertemuan pertama kami. Mengingatkan dia pada percakapan
kami dulu, saya bertanya padanya apakah kalau begitu saya terlalu
berharap. Dia mengeluarkan buku catatan kecil warna merah dari saku dan
menunjukkan pada saya jadwal ceramah dan tanggaltanggal dia telah
dibooking. “Kemampuan berbicara,” dia mengakui, “merupakan kesenangan
yang saya peroleh saat memberikan servis tambahan yang bisa disumbangkan
kepada masyarakat inilah hal-hal yang paling memuaskan dalam hidup.”
Konferensi
pelucutan senjata yang penting akan dilakukan di Washington tidak lama
setelahnya. Ketika diketahui bahwa Perdana Menteri Inggris berencana
menghadirinya, Kelompok Gereja Philadelphia menelepon, mengundangnya
berbicara dalam pertemuan massa yang dilakukan di kota mereka. Mr. Ghent
menginformasikan pada saya bahwa dia sendirilah yang dipilih, dari semua
anggota kelompok gereja di kota itu, untuk memperkenalkan Perdana
Menteri Inggris kepada hadirin.
Inilah pria yang
telah duduk di meja yang sama kurang dari tiga tahun sebelumnya dan
dengan sungguhsungguh bertanya apakah saya berpikir dia bisa berbicara
di depan publik!
Apakah kemajuan
kemampuan berbicaranya yang pesat tidak lazim? Tidak sama sekali. Sudah
ada ratusan kasus yang sama. Sebagai contoh, contoh yang lebih spesifik,
bertahun-tahun yang lalu, seorang dokter Brooklyn, yang akan kita
panggil Dr. Curtis, menghabiskan musim dingin di Florida dekat lapangan
tempat latihan the Giants.
Sebagai fans
baseball yang antusias, dia seringkali pergi melihat team berlatih. Pada
waktunya, dia menjadi cukup akrab dengan team dan diundang menghadiri
perjamuan yang diberikan sebagai penghormatan.
Setelah kopi dan
kacang dihidangkan, beberapa tamu terhormat dipanggil ke depan untuk
menyampaikan beberapa patah kata. Tibatiba, dengan gemuruh suara yang
nyaring dan tidak diharapkan, dia mendengar pembawa acara berbicara,
“Kita bersama seorang dokter malam ini. Saya akan meminta Dr. Curtis
berbicara tentang Kesehatan Pemain Baseball.”
Apakah dia siap?
Tentu saja. Dia punya persiapan terbaik di dunia: dia sudah belajar
tentang kesehatan dan mempraktekkan pengobatan selama hampir tiga abad.
Dia bisa duduk di kursi dan berbicara tentang topik ini semalaman dengan
orang yang duduk di sampingnya. Tetapi untuk berdiri dan mengatakan yang
sama bahkan kepada pendengar yang sedikit ⎯itu yang menjadi masalah.
Masalah yang melumpuhkan. Jantungnya berdetak dua kali lipat dan
berhenti ketika dia berpikir. Dalam hidupnya dia belum pernah berbicara
di depan publik, dan setiap pemikiran yang sudah dia dapatkan sekarang
lenyap.
Apa yang akan
dia lakukan? Pendengar memberi tepuk tangan. Semua orang menatapnya. Dia
menggelengkan kepala. Tetapi itu hanya bisa memperkeras tepuk tangan,
memperbesar tuntutan. Teriakan “Dr. Curtis! Bicara! Bicara!” semakin
keras dan lebih menuntut.
Dia benar-benar
merasa sengsara. Dia tahu jika berdiri dia akan gagal. Dia tidak akan
bisa menyampaikan setengah lusin kalimat. Maka dia berdiri, dan, tanpa
mengucapkan sepatah kata, membalikkan punggung dan berjalan diam keluar
ruangan. Dia seorang pria yang sangat malu.
Sedikit
mengherankan bahwa salah satu dari hal pertama yang dia lakukan setelah
kembali ke Brooklyn adalah mendaftar kursus saya Public Speaking. Dia
tidak mau malu dan konyol untuk kedua kalinya.
Dia jenis murid
yang menyukai instruktur: sangat bersungguh-sungguh. Dia ingin sekali
bisa bicara. Tidak ada setengah hati tentang keinginannya. Dia
mempersiapkan pembicaraan dengan teliti. Melatih diri dengan satu
keinginan. Tidak pernah melewatkan kursus satu kali pun.
Dia melakukan
dengan tepat apa yang dilakukan seorang siswa. Dia mengalami kemajuan
dengan kecepatan yang mengagetkan.
Melebihi harapan
yang paling diinginkan. Setelah beberapa sesi pertama kecemasan hilang.
Percaya diri lebih besar dan lebih besar lagi. Dalam dua bulan, dia
telah menjadi pembicara andal. Dia segera menerima undangan berbicara di
mana saja. Dia sekarang menyukai perasaan dan kegembiraannya, teman yang
berbedabeda yang diperkenalkan kepadanya.
Seorang anggota
Komite Kampanye Partai Republik New York City, yang mendengar salah satu
pembicaraannya, mengundang Dr. Curtis meneliti kota untuk partainya.
Betapa mengejutkan bahwa setahun sebelumnya, pembicara telah berdiri dan
meninggalkan aula perjamuan dalam keadaan malu dan bingung karena tidak
bisa bicara dan takut kepada pendengar!
Pencapaian rasa
percaya diri, keberanian, dan kemampuan berpikir dengan tenang dan jelas
sambil berbicara kepada sekelompok orang tidak ada sepersepuluh dari
kesulitan yang banyak dibayangkan orang. Ini bukan anugerah yang
diberikan oleh Tuhan hanya kepada beberapa individu pilihan. Ini seperti
kemampuan bermain golf. Siapapun bisa mengembangkan kapasitas latennya
jika memiliki keinginan yang cukup besar untuk melakukannya.
Apakah ada
alasan yang masuk akal mengapa Anda tidak bisa berpikir pada posisi
tegak lurus di depan pendengar sama seperti ketika sedang duduk? Pasti,
Anda tahu tidak ada. Sesungguhnya, Anda seharusnya berpikir dengan lebih
baik ketika menghadapi grup. Kehadiran mereka seharusnya mengobarkan dan
memicu Anda. Banyak pembicara hebat akan memberitahu Anda bahwa
kehadiran pendengar merupakan stimulus, inspirasi yang mendorong otak
berfungsi lebih cemerlang dan lebih optimal. Pada saat-saat seperti
itu, pikiran, fakta, ide, yang tidak diketahui kalau ternyata dimiliki,
“seperti asap rokok”, seperti yang dikatakan oleh Henry Ward Beecher;
dan mereka harus susah payah menjangkau dan merentangkan tangan guna
meraihnya. Itu seharusnya menjadi pengalaman Anda. Itu mungkin tidak
akan tejadi jika Anda mau berlatih dan gigih.
Namun demikian,
dari semua ini, Anda boleh sangat yakin: latihan akan membuang rasa
takut kepada pendengar dan memberi rasa percaya diri serta keberanian
yang tidak kunjung hilang.
Jangan
membayangkan masalah Anda luar biasa sulit. Bahkan orang yang telah
menjadi wakil generasi yang paling fasih, pada permulaan karirnya, juga
takut dan kurang percaya diri.
William
Jennings Bryan, veteran perang, mengakui bahwa pada saat pertama
berbicara di depan publik, kedua lututnya nyaris kaku dan menghantamnya
bersama-sama.
Mark Twain,
pertama kali berdiri saat akan mengajar, merasa seolah mulutnya penuh
kapas dan detak jantungnya sangat cepat.
Grant
mengambil alih Vicksburg dan membawa kemenangan salah satu pasukan
paling hebat yang pernah dilihat dunia pada waktu itu. Namun ketika
berbicara di depan publik, dia mengakui punya sesuatu seperti locomotor
ataxia.
Almarhum Jean
Jaures, pembicara politik paling berpengaruh yang dipersembahkan
Perancis pada generasinya, duduk, selama setahun, kaku lidah di Chamber
of Deputies sebelum berani membuat pidato pertama.
“Pertama kali
mencoba berbicara di depan publik,” Lloyd George mengakui, ”saya sangat
menyedihkan. Tidak ada yang dibicarakan. Betul, lidah saya terlipat ke
langitlangit mulut.
Pertama kali,
saya sulit mengeluarkan sepatah kata pun.”
John Bright
adalah orang Inggris terkemuka. Selama perang saudara, dia bertahan di
Inggris. Dia pencetus perserikatan dan emansipasi. Sayangnya dia
menyuruh asistennya berbicara di depan sekelompok orang yang berkumpul
di gedung sekolah. Dia sangat takut ke tempat itu. Dia takut gagal,
sehingga meminta teman bertepuk tangan guna memberikan dukungan setiap
ada gelagat atau tandatanda gugup.
Charles Steward
Parnell, pemimpin besar Irlandia, pada permulaan karirnya, begitu gugup,
menurut kesaksian saudaranya.
Dia sering
mengepalkan tangan sehingga kukunya menusuk daging dan telapak tangan
hingga berdarah.
Disraeli
mengakui bahwa dia lebih baik membawa kavaleri daripada menghadapi House
of Commons untuk pertama kalinya. Pidato pembukaannya merupakan
kegagalan yang mengerikan. Begitu juga Sheridan.
Sesungguhnya,
begitu banyak pembicara terkenal dari Inggris telah membuat penampilan
pertama kali yang buruk sehingga sekarang ada perasaan di Parlemen bahwa
pidato pertama anak muda yang sukses lebih merupakan pertanda yang tidak
menguntungkan. Jadi renungkanlah.
Setelah melihat
karir dan memberikan bantuan mengembangkan kemampuan begitu banyak
pembicara, penulis selalu senang ketika seorang siswa pada awalnya gugup
dan takut berbicara di depan publik.
Ada tanggung
jawab tertentu dalam membuat pidato. Meskipun hanya dua lusin pria dan
wanita dalam pertemuan bisnis, tetap saja tegang, kaget, dan ada
kesenangan tertentu. Pembicara seharusnya tetap riang gembira meskipun
sedang tegang. Cicero mengatakan, “Dua ribu tahun yang lalu, berbicara
di depan publik dicirikan oleh kegugupan, tetapu justru itulah
kenikmatannya.”
Pembicara di
depan publik seringkali mengalami perasaan yang sama bahkan ketika
sedang berbicara di radio. Ini disebut takut mikrofon. Ketika Charlie
Chaplin melanjutkan siaran, dia menulis skrip semua pembicaraannya.
Tentu saja dia terbiasa dengan pendengar. Dia mengelilingi negeri ini
kembali tahun 1912 dengan sketsa berjudul A Night in a Music Hall.
Sebelum itu dia berpengalaman tampil di panggung sandiwara di Inggris.
Namun ketika memasuki ruangan dan menghadapi mikrofon, dia gugup dan
perut mual, seperti sensasi yang dirasakan seseorang ketika menyeberangi
Atlantik selama bulan Februari yang penuh badai.
James Kirkwood,
aktor dan sutradara film terkenal, memiliki pengalaman yang sama. Dia
terbiasa menjadi bintang di panggung pidato. Namun ketika keluar dari
ruang siaran, setelah menyampaikan pidato sambutan kepada para
pendengar, dia menyeka keringat di kening. “Malam pembukaan di
Broadway,” dia mengakui, “tidak ada apaapanya dibandingkan ini.”
Sebagian orang,
tidak masalah seberapa sering berbicara, selalu mengalami gundah sebelum
berkomentar, tetapi dalam beberapa detik setelah berdiri rasa gundah
hilang.
Bahkan Lincoln
malu pada beberapa saat pembukaan:
Pada awalnya dia sangat kaku,
cerita partner hukumnya, Herndon.
Tampaknya merupakan kerja
keras untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Dia berjuang
keras mengatasi rasa malu dan sensitif. Semua ini hanya menambah kaku.
Saya sudah sering melihat dan bersimpati dengan Mr. Lincoln selama
saatsaat tersebut.
Ketika dia mulai berbicara, suaranya melengking, nyaring, dan tidak
enak. Sikap, sifat, wajah kuning, gelap, berkerut, dan kering, figur
aneh, gerakan malumalu, segalanya tampak bertentangan dengannya, tetapi
hanya sebentar.
Dalam beberapa
saat dia meraih ketenangan dan kehangatan serta kesungguhan, pidato yang
sesungguhnya baru dimulai. Pengalaman Anda mungkin sama seperti
pengalamannya. Untuk mendapatkan yang terbaik dari usaha Anda menjadi
pembicara yang baik di depan publik, dan untuk mendapatkannya dengan
cepat, ada empat hal yang sangat penting:
Pertama: Mulai
dengan Keinginan yang Kuat dan Gigih
Ini jauh lebih
penting daripada yang mungkin Anda sadari. Jika seorang instruktur bisa
melongok ke dalam pikiran dan hati Anda serta memastikan kedalaman
keinginan Anda, tentu dia bisa meramalkan, nyaris pasti, kecepatan
kemajuan yang akan Anda buat. Jika Anda pucat dan keinginan lembek,
prestasi Anda juga akan senada. Jika Anda memeriksa topik dengan gigih,
dengan energi maksimal, bagaikan bulldog mengejar kucing, maka tidak ada
yang akan mengalahkan Anda.
Oleh karena itu,
munculkan antusiasme belajar sendiri. Perhitungkan keuntungannya.
Pikirkan bahwa meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berbicara
dengan lebih meyakinkan di depan publik akan berarti bagi Anda. Pikirkan
apa makna yang tersurat dan yang tersirat. Pikirkan apa manfaat bagi
Anda dari segi sosial, teman yang akan diperoleh, peningkatan pengaruh
pribadi, dan kepemimpinan yang diberikan pada Anda. Ini akan memberikan
kepemimpinan lebih cepat daripada aktivitas lain yang bisa Anda pikirkan
atau bayangkan.
“Tidak ada
prestasi,” ujar Chauncey M. Depew, “yang bisa diperoleh oleh siapa saja
sehingga karier cepat melesat dan kemampuan berbicaranya langsung diakui
sangat bagus dan dapat diterima.”
Philip D.
Armour, setelah dia mengagumkan jutaan orang, mengatakan, “Saya akan
lebih memilih sebagai pembicara hebat daripada sebagai kapitalis hebat.”
Inilah prestasi
yang dirindukan oleh hampir setiap orang berpendidikan. Setelah kematian
Andrew Carnegie, di antara kertaskertasnya, ditemukanlah rencana hidup
ketika dia berusia tiga puluh tiga tahun. Dia kemudian merasa bahwa
dalam dua tahun dia bisa merancang bisnis dengan pendapatan tahunan
sebesar lima puluh lima ribu dollar. Maka dia mengundurkan diri pada
usia tiga puluh lima tahun. Pergi ke Oxford guna mendapatkan pendidikan
yang bagus. Dan “memberikan perhatian khusus untuk berbicara di depan
publik”.
Pikirkan
nikmatnya puas dan senang yang diperoleh berkat latihan kekuatan baru
ini. Penulis telah bepergian keliling dunia dan sudah punya banyak
pengalaman yang bervariasi. Dia tahu bahwa hanya sedikit hal yang bisa
memberikan kepuasan sebesar berdiri di depan pendengar dan membuat orang
kagum dengan ide Anda. Ini akan memberikan kekuatan batin. Ini akan
memberikan kebanggaan terhadap prestasi pribadi. Ini akan membuat Anda
memulai dan mengangkat diri berada di atas orangorang di sekitar. Ada
keajaiban di dalamnya dan kegembiraan yang tidak pernah terlupakan. “Dua
menit sebelum saya memulai,” seorang pembicara mengakui, “saya lebih
baik dicambuk daripada memulai; tetapi dua menit sebelum saya selesai,
saya lebih baik ditembak daripada berhenti.”
Dalam setiap
usaha sebagian orang menjadi lemah dan kalah. Jadi seharusnya terus
pikirkan betapa ketrampilan ini akan berarti hingga keinginan Anda panas
membara.
Anda seharusnya
memulai program ini dengan antusias sehingga akan membuahkan kemenangan
hingga akhir.
Sisihkan satu
malam tertentu dalam seminggu untuk membaca babbab ini. Singkatnya,
buatlah segampang mungkin untuk maju. Buatlah sesulit mungkin untuk
mundur.
Ketika Julius
Caesar berlayar menyusuri kanal dari Gaul dan berlabuh dengan pasukannya
di tempat yang sekarang disebut Inggris, apa yang dilakukan untuk
menjamin kesuksesan tentaranya? Sesuatu yang cemerlang: dia menghentikan
pasukannya di jurang kapur Dover, dan memandang gelombang dua ratus kaki
di bawah sana. Mereka melihat lidah api yang merah membakar seluruh
kapal yang telah menyeberangkan mereka. Di negara musuh, dan penghubung
terakhir dengan Benua telah hilang, sarana terakhir mundur dibakar,
hanya satu pilihan yang tersisa bagi mereka: terus maju, menaklukkan.
Itulah sesuatu yang tepat yang harus dilakukan.
Seperti
itulah semangat abadi Julius Caesar. Mengapa tidak menjadikannya
semangat Anda, juga, dalam perang ini untuk menaklukkan rasa takut yang
konyol terhadap pendengar.
Kedua:
Pahami dengan Jelas Apa yang akan Anda Katakan
Kecuali orang
telah memikirkan dan merencanakan pembicaraan dan tahu apa yang akan
dikatakan, dia tidak bisa merasa nyaman ketika menghadapi pendengar. Dia
seperti orang buta menuntun orang buta. Di bawah kondisi demikian,
pembicara seharusnya sadar diri, merasa penuh penyesalan, malu atas
ketidaktahuannya.
Saya terpilih
sebagai anggota Legislatif pada musim gugur tahun 1881 [Teddy Roosevelt
dalam Atobiografi] dan menemukan dirinya sebagai orang yang paling muda
dalam dewan. Seperti halnya semua anak muda dan anggota yang tidak
berpengalaman, saya punya kesulitan mengajar diri sendiri untuk
berbicara. Saya memperoleh banyak manfaat dari nasehat orang tua yang
keras kepala ⎯yang tanpa sadar memparafrasekan Duke of Wellington, yang
dia sendiri tanpa raguragu memparafrasekan orang lain. Nasehat itu
berbunyi: “Jangan berbicara sampai Anda merasa yakin memiliki sesuatu
untuk dikatakan, dan tahu apa itu; kemudian mengatakannya, dan duduk.”
“Orang tua
keras kepala” ini seharusnya telah memberitahu Roosevelt cara lain
mengatasi gugup. Dia seharusnya menambahkan, “Ini akan membantu Anda
menghilangkan rasa malu jika bisa menemukan sesuatu yang bisa dilakukan
di depan pendengar ⎯jika bisa memperlihatkan sesuatu, menulis satu kata
di papan tulis, menunjukkan titik di peta, memindahkan meja, membuka
jendela, atau mengangkat beberapa buku dan kertas ⎯aksi fisik apa pun
dengan tujuan di baliknya ini mungkin membantu Anda lebih merasa berada
di rumah.”
Betul, tidak
selalu mudah menemukan alasan mengapa melakukan halhal tersebut; tetapi
ada saran.
Gunakan jika
Anda bisa; tetapi gunakan hanya di saatsaat pertama saja.
Seorang bayi
tentu tidak langsung melompat ke kursi setelah belajar berjalan sekali.
Ketiga:
Bersikap Percaya Diri
Salah seorang
psikolog terkenal yang berasal dari Amerika, Profesor William James,
menulis sebagai berikut:
Aksi tampak
seperti mengikuti perasaan, tetapi aksi dan perasaan sesungguhnya
berjalan seiring; dan dengan mengatur aksi langsung di bawah kontrol
kemauan, secara tidak langsung kita bisa mengatur perasaan.
Jadi, jalan
menuju kegembiraan, jika kegembiraan spontan kita hilang, adalah duduk
dengan gembira, bersikap, dan berbicara seolaholah kegembiraan itu ada.
Jika ini tidak bisa membuat Anda gembira, tidak ada hal lainnya pada
kesempatan tersebut yang bisa membuatnya gembira.
Jadi, untuk
merasa berani, bersikaplah seolaholah kita berani, gunakan semua
keinginan kita sampai akhir, dan keberanian mungkin akan menggantikan
serangan rasa takut.
Terapkan nasehat
Profesor James. Untuk membangun keberanian ketika menghadapi pendengar,
bersikaplah seolaholah Anda sudah berani. Tentu saja, kecuali Anda
siap, akting hanya sedikit memberikan manfaat. Tetapi silahkan jika Anda
tahu apa yang akan dibicarakan. Melangkahlah dengan tegap dan tarik
napas dalamdalam. Tariklah napas dalamdalam selama tiga puluh detik
sebelum Anda menghadapi pendengar. Persediaan oksigen yang bertambah
akan melambungkan dan memberi Anda keberanian. Penyanyi tenor terkenal,
Jean de Reszke, selalu mengatakan bahwa ketika menarik napas Anda “bisa
duduk tenang” sehingga kegugupan pun hilang.
Dalam segala
abad dan semua iklim, manusia selalu mengagumi keberanian. Jadi betapa
pun jantung bergemuruh, melangkahlah ke depan dengan berani, berhenti,
berdiri tegak, dan bersikap seolaholah Anda menyukai.
Tegakkan
tubuh. Pandang pendengar tepat di matanya, dan mulailah berbicara dengan
penuh percaya diri seolaholah mereka semua akan pinjam uang. Bayangkan
mereka demikian. Bayangkan mereka telah berkumpul di sana untuk memohon
pada Anda perpanjangan kredit. Efek psikologis dalam diri Anda akan
bermanfaat.
Saat gugup,
jangan membuka dan mengancingkan kancing jas.
Jangan memainkan
manikmanik baju. Jangan merabaraba dengan tangan. Jika gugup, letakkan
tangan di balik punggung dan mainkan jari di sana sehingga tidak ada
seorang pun yang bisa melihat ⎯atau goyanggoyangkan jempol kaki.
Sebagai aturan
umum, buruk bagi seorang pembicara bersembunyi di balik furnitur. Tetapi
ini mungkin akan memberi Anda sedikit keberanian beberapa menit pertama
untuk berdiri di balik meja atau kursi dan memegangnya eraterat ⎯atau
menggenggam koin kuatkuat di telapak tangan.
Bagaimana Teddy
Roosevelt membangun karakter berani dan percaya diri? Apakah dia
dianugerahi oleh alam dengan jiwa yang berani dan suka berpetualang?
Tidak sama sekali. “Menjadi anak lakilaki yang sakitsakitan dan kaku,”
dia mengakui dalam Autobiography, “saya, sebagai anak muda, pada awalnya
gugup dan tidak yakin pada kekuatan saya. Saya harus melatih diri
sendiri dengan rasa sakit dan kerja keras bukan hanya untuk tubuh saya
tetapi juga jiwa dan semangat saya.”
Untungnya,
dia telah memberitahu kita bagaimana dia mencapai transformasi:
Ketika masih
kanakkanak, saya membaca satu paragraf di salah satu buku Marryat yang
selalu membuat terkesan. Dalam paragraf ini seorang kapten kapal perang
kecil Inggris sedang menjelaskan kepada pahlawan bagaimana bersikap
tidak kenal takut. Dia mengatakan bahwa pada awalnya nyaris setiap orang
takut ketika harus beraksi. Tetapi jalan yang harus diikuti orang ini
adalah berpegang kuat pada diri sendiri bahwa dia bisa bersikap
seolaholah tidak takut. Setelah berlangsung cukup lama, ini akan
berubah dari kepurapuraan menjadi yang sebenarnya. Orang menjadi tidak
takut berkat berlatih tidak takut ketika dia tidak merasakannya (Saya
sedang menggunakan bahasa sendiri, bukan Marryat.)
Inilah teorinya
yang saya pakai pijakan. Ada segala jenis hal yang saya takutkan pertama
kali, dari beruang yang sangat besar dan buas hingga kuda dan penembak
jahat. Tetapi dengan bersikap seolaholah tidak takut, perlahanlahan
saya berhenti merasa takut. Sebagian besar orang bisa mendapatkan
pengalaman yang sama jika mereka memilihnya.
Anda juga bisa
memiliki pengalaman tersebut jika mau. “Dalam pertempuran,” ujar Marshal
Foch, “pertahanan terbaik adalah menyerang.” Jadi lakukan serangan
terhadap rasa takut Anda. Keluarlah untuk menghadapinya, bertarunglah,
dan taklukkan mereka sematamata dengan keberanian pada setiap
kesempatan.
Miliki pesan,
dan kemudian bayangkan diri Anda sebagai pemuda Western Union yang
diinstruksikan untuk menyampaikannya. Kita meremehkan pemuda itu. Inilah
telegram yang kita inginkan. Pesan ⎯itulah yang penting. Pusatkan
pikiran Anda padanya. Pusatkan hati Anda padanya. Pahami pesan seperti
punggung tangan Anda. Yakini dengan penuh perasaan. Kemudian bicaralah
seolaholah Anda ditakdirkan untuk menyampaikannya. Lakukan itu, dan
peluangnya sepuluh lawan satu sehingga Anda akan segera menjadi master
pada kesempatan tersebut dan master diri sendiri.
Keempat:
Berlatih! Berlatih! Berlatih!
Poin terakhir
yang harus kita buat di sini secara empati merupakan yang paling
penting. Meskipun Anda melupakan semua yang sudah dibaca sejauh ini,
ingatlah ini: cara pertama, cara terakhir, cara yang tidak pernah gagal
untuk membangun rasa percaya diri dalam berbicara adalah berbicara.
Seluruh
materi akhirnya akan mengendap kecuali satu yang penting; berlatih,
berlatih, berlatih. Inilah sine qua non dari semuanya, “perkecualian
yang tidak”.
Pemula mana pun,
Roosevelt memperingatkan, mungkin mengalami demam panggung. Demam
panggung berarti gugup sekali, dan bisa dipisahkan sepenuhnya dari rasa
takut. Ini bisa mempengaruhi orang yang pertama kali harus berbicara
kepada pendengar yang banyak sekali, ini sama seperti pertama kali
melihat rusa jantan atau pergi ke medan perang. Yang dibutuhkan oleh
orang seperti ini bukanlah keberanian, tetapi pengendalian diri dan
berkepala dingin. Ini bisa diperoleh hanya dengan berlatih. Dia harus,
dengan kebiasaan dan latihan berulang kali terhadap penguasaan diri,
bisa mengontrol kegugupan. Ini masalah kebiasaan; dari sisi usaha dan
latihan berulang. Jika orang memiliki sikap yang tepat dalam dirinya,
dia akan berkembang lebih kuat dan semakin kuat seiring dengan latihan.
Anda ingin
terbebas dari takut pendengar?
Mari kita lihat
apa yang menyebabkannya.
“Rasa takut
adalah perwujudan dari ketidaktahuan dan ketidakpastian,” ujar Profesor
Robinson dalam The Mind in the Making. Untuk mengatakannya dengan cara
lain: ini adalah akibat dari kurangnya percaya diri.
Apa yang
menyebabkannya? Ini akibat dari tidak tahu apa yang sebenarnya bisa Anda
lakukan. Tidak tahu apa yang bisa Anda lakukan disebabkan oleh kurang
pengalaman. Ketika mendapat pengalaman sukses, rasa takut Anda akan
hilang; mereka akan mencair seperti embun malam di bawah sinar matahari
Juni.
Satu hal yang
pasti: cara yang diterima untuk belajar berenang adalah masuk ke dalam
air. Anda telah membaca buku ini cukup lama. Mengapa tidak
menyisihkannya sekarang, dan sibuk dengan pekerjaan yang ada di tangan.
Pilihlah topik,
lebih disukai satu topik di mana Anda punya pengetahuan tentangnya.
Lantas susun pembicaraan tiga menit. Berlatihlah bicara sendiri berulang
kali. Kemudian, jika memungkinkan, di depan kelompok atau di depan
sekelompok teman, wujudkan semua daya dan kekuatan Anda.
Ringkasan
1.
Beberapa ribu siswa telah menulis surat kepada penulis yang
menyatakan mengapa mereka menginginkan pelatihan dalam berbicara di
depan publik dan apa yang diharapkan darinya. Alasan utama yang
diberikan oleh hampir semua siswa adalah mereka ingin menaklukkan
kegugupan, bisa berpikir sambil berdiri, dan berbicara dengan percaya
diri dan tenang di depan sekelompok orang berapa pun jumlahnya.
2.
Kemampuan
melakukan hal ini tidak sulit dicapai. Ini bukan anugerah yang diberikan
oleh Tuhan kepada hanya beberapa individu pilihan. Ini seperti kemampuan
bermain golf: pria dan wanita mana pun setiap orang bisa mengembangkan
kapasitas latennya jika memiliki keinginan yang cukup besar untuk
melakukannya.
3.
Banyak
pembicara berpengalaman bisa berpikir dan berbicara dengan lebih baik
ketika menghadapi grup daripada dalam percakapan dengan individu.
Kehadiran orang banyak terbukti menjadi stimulus, inspirasi. Jika Anda
tepat mengikuti saran buku ini, waktunya akan tiba, itu akan menjadi
pengalaman berharga.
Nantinya Anda dengan senang hati ingin sekali berbicara di depan publik.
4.
Jangan
membayangkan masalah Anda tidak lazim. Banyak orang yang menjadi
pembicara terkenal, pada awalnya kurang percaya diri dan takut
pendengar. Itulah pengalaman Bryan, Jean Jaures, Lloyd George, Charles
Steward Parnell, John Bright, Disraeli, Sheridan, dan pembicara lain.
5.
Tidak
masalah seberapa sering berbicara, Anda bisa mengalami kurang percaya
diri tepat sebelum memulai, tetapi dalam beberapa detik setelah berdiri,
rasa ini akan hilang sepenuhnya.
6.
Untuk
mendapatkan yang terbaik dari buku ini dan untuk mendapatkannya dengan
cepat dan berhasil, lakukan empat hal ini:
a) Mulai
dengan keinginan Anda yang kuat dan gigih. Hitunglah keuntungan berlatih
bagi Anda. Munculkan antusiasme Anda terhadapnya. Pikirkan apa artinya
ini bagi Anda secara finansial, sosial, pengaruh, serta kepemimpinan
yang meningkat. Ingatlah bahwa kecepatan kemajuan tergantung pada
kedalaman keinginan Anda.
b) Persiapkan.
Anda tidak bisa percaya diri kecuali tahu apa yang akan dikatakan.
c) Bersikap
percaya diri. “Untuk merasa berani,” nasehat Profesor William James,
“bersikaplah seolaholah berani, gunakan semua keinginan Anda sampai
akhir, dan keberanian akan sangat mungkin mengganti rasa takut.” Teddy
Roosevelt mengakui bahwa dia menaklukkan rasa takut pada beruang buas,
kuda liar, dan penembak dengan metode tersebut. Anda bisa menaklukkan
rasa takut kepada pendengar dengan mengambil manfaat dari fakta
psikologis ini.
d) Berlatih.
Inilah poin paling penting dari semuanya. Rasa takut diakibatkan kurang
percaya diri. Kurang rasa percaya diri diakibatkan tidak tahu apa yang
dapat Anda lakukan; dan itu disebabkan kurangnya pengalaman.
Jadi dapatkan pengalaman
sukses, maka rasa takut akan hilang.
Sumber:
TCI (maaf,
kami kehilangan data mengenai penulisnya)
*******
|