| |
JAM
TERBANG
Berbicara
di Depan Umum
Oleh : Ubaydillah, AN
Konon,
selain kematian, beberapa hal yang kerap ditakuti orang salah satunya
adalah berbicara di depan umum. Benar nggak begitu? Banyak orang yang
merasa dak-dik-duk, gemetar, bingung setengah mati ketika diminta atau
punya tugas harus berbicara di depan umum. Pertanyaannya adalah, apakah
perasaan demikian itu wajar? Untuk membahas ini mari kita perhatikan
hal-hal di bawah ini:
Pertama,
siapa pun orangnya, mau dia pembicara publik sekelas Hermawan Kertajaya,
Rheinald Khasali, Andi Wongso, atau pak ketua RT di tempat kita,
memiliki perasaan yang bisa disebut dengan bahasa dak-dik-duk ketika
hendak berbicara di depan umum. Hanya memang kadar dan durasinya berbeda.
Selain itu, jam terbang juga ikut andil besar di sini.
Orang
seperti Hermawan Kertajaya dan lain-lain tetap merasa dak-dik-duk tapi
kadarnya mungkin sedikit, durasinya hanya berlangsung beberapa detik.
Dengan pengalamannya dalam menghadapi publik selama ini (jam terbang),
rasa dak-dik-duk itu segera bisa dialihkan menjadi hal-hal yang dapat
menghangatkan suasana.
Kedua,
penguasaan materi. Kalau kita tiba-tiba ditodong untuk berbicara tanpa
persiapan, ini akan berpotensi membuat kita gelagapan. Bedanya, kalau
kita sudah punya jam terbang tinggi, situasi dan kondisi demikian bisa
kita cairkan dengan cepat. Tapi bila tidak, ini bisa membuat kita stress
yang ditandai dengan keinginan untuk ke toilet, sakit perut, jantung
berdetak terlalu cepat dan lain-lain.
Begitu
juga kalau kita dimintai berbicara tentang hal-hal yang kita sendiri
tidak menguasainya. Meski kita sudah diberi waktu agak cukup untuk
menyusun persiapan, tetapi kalau memang itu bukan bidang kita, mau tidak
mau ini kerap membikin kita bingung. Untuk orang yang sudah punya jam
terbang tinggi, kebingungan ini biasanya bisa diatasi dengan
penyiasatan-penyiasatan kreatif.
Ketiga,
audien dan suasana. Banyak orang yang merasa minder, dak-dik-duk atau
bingung ketika harus berbicara di depan orang yang misalnya saja: lebih
senior, lebih tua, lebih pintar, atau lebih segala-galanya. Persepsi
kita tentang audien juga ikut mempengaruhi. Kalau kita mempersepsikan
audien sebagai seperti macan, sementara kita mempersepsikan diri sendiri
sebagai seperti kuncing, ya mana mungkin ada kucing yang tidak minder
menghadapi macan. Jadi, baik fakta dan persepsi juga ikut berperan.
Begitu
juga dengan suasana. Setiap suasana baru membutuhkan adaptasi baru. Ini
berlaku untuk semua manusia. Orang yang biasa menghadapi massa dalam
jumlah kecil, butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di
depan massa yang jumlahnya banyak. Orang yang biasa mengajar di depan
siswa atau mahasiswa, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta untuk
berbicara di depan masyarakat yang tidak ada segmentasinya. Orang yang
biasa berbicara dalam suasana yang alami, tetap butuh adaptasi baru
ketika diminta berbicara dalam suasana yang benar-benar sophisticated,
misalnya disorot kamera, direkam, ditayangkan melalui jaringan teve, dan
lain-lain.
Jadi,
merasa dak-dik-duk saat baru sekali atau dua kali berbicara di depan
umum, saat menghadapi audien dengan segmentasi baru atau saat menghadapi
suasana baru, itu semua wajar. Persiapan, penguasaan materi dan
pengalaman menjadi kata kunci yang membedakan apakah kewajaran itu
mengganggu atau tidak.
Perlu
disadari bahwa sebagian besar kita punya kepentingan untuk meningkatkan
kemampuan dalam hal berbicara ini. Ini terlepas apakah kita menjadikan
kemampuan ini sebagai profesi (public speaker) atau tidak. Kenapa? Ini
karena banyak proses pekerjaan yang menuntut kita harus berbicara di
depan umum (orang banyak), misalnya presentasi, mengajar, mengarahkan,
melaporkan, mendiskusikan, dan lain-lain. Karena itu, kalau membaca
hasil survei CCL (Researh Summary Report, 2003), ada 45 % responden yang
menyatakan ingin atau sangat ingin mendapatkan pengembangan di sejumlah
area, termasuk salah satunya adalah public speaking atau presentasi.
PRINSIP, GAYA & ETIKA
Ada
sedikitnya tiga hal yang perlu kita bedakan saat hendak berbicara di
depan umum. Ketiga hal itu adalah: a) prinsip, b) gaya dan c) etika.
Ketika disebut prinsip, maka yang dimasudkan adalah serangkaian kaidah
yang harus kita jalankan atau taati. Kalau tidak, ini bakal menciptakan
konsekuensi salah-benar.
Beberapa
prinsip umum yang perlu kita taati antara lain:
Pertama, visualisasi. Ini masuk dalam persiapan. Visualisasi adalah
membayangkan materi yang kita sampaikan, sistematika penyampaian, respon
yang mungkin timbul dari audien, suasana yang kita harapkan untuk
terjadi, dan lain-lain. Untuk orang yang sudah punya jam terbang tinggi,
visualisasi ini barangkali cukup dilakukan dengan mengandalkan naluri
atau alam bawah sadarnya. Pikirannya sudah terprogram untuk melakukan
visualisasi secara otomatik (reflek).
Tapi,
untuk pemula atau yang belum punya jam terbang tinggi, visualisasi ini
perlu dilakukan dengan cara yang khusus. Banyak yang menyarankan agar
ditulis, dihafalkan, dipraktekkan, dan dilakukan gladi kotor sampai
gladi resik di tempat tertentu, misalnya kamar mandi, ruangan sepi atau
kamar tidur. Terserah cara apapun yang pas buat anda, tetapi prinsipnya
visualisasi ini harus dilakukan.
Bahkan
ada pengalaman saya yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Dalam sebuah
acara, saya kebetulan duduk di samping pembicara utama. Semua orang yang
hadir si situ tahu kalau pembicara ini sudah punya jam terbang tinggi.
Tapi, lima-sepuluh menit sebelum naik podium, beliau tetap membutuhkan
waktu untuk melakukan visualisasi ulang. Ini yang sudah punya jam
terbang tinggi, apalagi yang belum.
Kedua,
tahu audien. Ini juga prinsip. Kenapa? Tahu audien akan membuat kita
tahu materi yang bermanfaat untuk mereka. Tidak tahu audien akan membuat
kita hanya berpikir untuk diri kita sendiri, padahal kita harus
berbicara di depan umum. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa orang akan
tertarik pada hal-hal yang memang bermanfaat untuk dirinya. Kalau kita
hanya berbicara tentang hal-hal yang hanya menarik untuk kita tetapi
tidak menarik buat mereka, wah ini bisa gawat.
Tahu
audien akan membuat kita tahu strategi yang pas buat kita. Ada strategi
yang berbeda antara kita harus berbicara di depan orang yang lebih atas,
yang sama / selevel dan yang lebih bawah. Strategi ini akan kita temukan
kalau kita tahu siapa audien kita, kelompok mana audien kita, orang
seperti apa audien kita, dan seterusnya.
Ketiga,
kualitas-diri. Kualitas diri ini tentu luas pengertiannya. Saya
ingin menggambarkan misalnya saja tingkat kepercayaan-diri. Agar kita
bisa bicara lantang di depan orang (audien), tentu saja dibutuhkan
tingkat kepercayaan-diri yang bagus. Darimana ini bisa digali?
Kepercayaan-diri ini tidak bisa dibuat-buat. Seperti yang sudah kita
bahas di sini, kepercayaan-diri ini terkait dengan bagaimana kita
merasakan, menilai diri sendiri dan bukti prestasi yang kita miliki.
Artinya, semakin bagus kualitas diri kita (dalam pengertian yang
seluas-luasnya), akan semakin bagus pula kualitas kita dalam berbicara
di depan umum: lebih pede, lebih jelas, lebih kokoh, lebih siap, dan
seterusnya.
Lalu bagaimana dengan gaya? Gaya
adalah seni bagaimana kita mendeliverikan, mempresentasikan atau
mengekspresikan materi. Gaya ini biasanya terkait dengan konsekuensi
enak dan tidak enak. Bagi kita yang tidak memilih profesi sebagai public
speaker, gaya ini mungkin bisa penting dan bisa tidak. Gaya ini biasanya
selalu berubah, tergantung pengalaman, selera, jam terbang, penguasaan,
kepribadian, karakter personal, dan lain-lain.
Meski
gaya ini variatif dan "suka-suka" kita memilihnya, tetapi ada semacam
rambu-rambu umum yang perlu kita perhatikan. Ini antara lain:
Pertama, berbicara ngelantur kemana-mana. Ibarat masakan, terkadang
kita butuh bumbu-bumbu yang ikut menambah kenikmatan dan kelezatan. Tapi
bila bumbunya ini terlalu banyak, nasib menunya bisa lain. Begitu juga
dengan berbicara. Terkadang kita butuh bumbu-bumbu, misalnya contoh,
data, dalil, humor dan lain-lain. Tapi bila itu kebanyakan, ini akan
mengalahkan materi utama yang ingin kita sampaikan. Apalagi misalnya
sampai ngelanturnya itu mengkorupsi waktu orang lain. Silahkan bergaya
apa saja tetapi jangan sampai ngelantur.
Kedua,
berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat dapat
membuat audien tidak mengerti dan tidak bisa mengikuti jalan pikiran dan
materi yang kita paparkan. Jika ini menyangkut angka atau data penting,
ini bisa gawat. Begitu juga kalau terlalu lambat. Ini bisa membuat orang
ngelamun atau kurang semangat mengikuti kita. Idealnya, kita perlu
memperkirakan antara 80-100 kata dalam satu menit.
Ketiga,
suara terlalu tinggi atau terlalu rendah. Jangan meninggikan suara
sampai dapat menganggu audien tetapi juga jangan terlalu merendahkan
suara sampai tidak jelas didengar. Sebisa mungkin, kita perlu mengatur
nada, irama dan tekanan. Artinya, ada beberapa hal yang perlu kita
keraskan, datarkan dan rendahkan. Untuk yang sudah punya jam terbang
tinggi, ini biasanya terjadi secara otomatik. Tetapi untuk pemula, ini
perlu kita latih dalam visualisasi.
Keempat, terlalu banyak gerak atau terlalu diam. Gaya apapun yang
kita pilih, itu suka-suka kita. Tetapi, hendaknya kita perlu menghindari
praktek "overacting" atau "underacting" (terlalu diam) sehingga terkesan
seolah-olah tidak ada interaksi antara kita dengan audien. Karena itu
ada saran agar kita bisa menatap satu persatu dalam hitungan detik
supaya muncul interaksi.
Kelima,
terlalu rumit atau terlalu banyak poin yang penting. Gaya apapun
yang kita pilih hendaknya perlu kita desain agar dapat membantu
menyederhanakan persoalan yang kita sampaikan. Jika ada istilah-istilah
asing yang tidak umum, kita pun perlu menjelaskannya dengan bahasa yang
kira-kira bisa dipahami oleh audien. Ini bisa kita lakukan dengan contoh,
analogi, penjelasan dari kita, dan lain-lain.
Begitu
juga dengan poin-poin yang kita anggap penting itu. Belum tentu apa yang
kita anggap penting itu akan penting juga bagi audien. Belum tentu apa
yang penting bagi kita dan audien akan dianggap penting oleh mereka.
Karena itu perlu ada pengarahan dan penyiasatan yang didukung oleh gaya
bicara. Jika kita harus menjelaskan persoalan yang banyak sekali
poin-poin yang penting, ini butuh metode yang kira-kira bisa diikuti,
misalnya dengan nomor: pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya atau
dengan istilah seperti judul, sub judul, sub-sub judul, dan lain-lain.
Selanjutnya adalah etika. Etika ini
terkait dengan kepantasan dan ketidakpantasan; kesopanan dan
ketidaksopanan. Beberapa hal yang sering dianggap etika umum dalam
berbicara di depan publik itu antara lain:
Pertama, salah menyebut orang atau menyebut orang dengan sebutan /
sapaan yang berpotensi dirasakan tidak enak, misalnya: ibu yang gendut
itu, mas yang kurus, bapak yang berkacamata, mbak yang berkulit hitam,
dan seterusnya. Akan lebih safe kalau kita menyebut namanya saja
ditambah dengan kata-kata yang memuliakan, seperti: pak, bu, mas, dan
seterusnya.
Kedua,
memberikan contoh yang menyinggung atau menyakiti orang, terutama dari
audien. Pilihlah contoh, anekdot atau kiasan yang kira-kira dapat
membantu penjelasan kita, tetapi juga perlu kita pikirkan efeknya bagi
orang lain.
Ketiga,
menganggap audien sebagai orang yang bodoh dan menganggap kita lebih
jago. Ini biasanya tidak kita ucapkan lewat mulut, tetapi kita
praktekkan melalui tanggapan atau penjelasan. Di depan orang banyak,
pertanyaan seperti apapun perlu kita tanggapi secara bijak dan dengan
logika-logika yang positif. Untuk menekan perasaan demikian, hindari
motif-motif untuk menonjolkan diri, misalnya ingin dianggap orang hebat,
orang pintar, dan lain-lain. Batasi pikiran untuk hanya berkesimpulan
bahwa di situ kita hanya menjelaskan sesuatu dan bila ada yang kurang
kita perbiki. Titik.
Keempat, tidak "melek-sponsor". Ini biasanya digunakan untuk
menyebut artis, penyanyi, mc, atau pembicara yang tidak menyebut atau
mempromosikan sponsor yang menyelenggarakan acara. Meski kita bukan
artis atau penyanyi tetapi akan lebih etis kalau kita mengucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang menurut kita telah memberikan kontribusi.
Kelima,
jauhi mannerisms, seperti garuk-garuk kepala, merapikan baju, mengusap
muka, hidung, telinga, melihat dasi atau sepatu, dan lain-lain. Intinya,
kita perlu mengkondisikan diri se-informal mungkin tetapi perlu
menghindari hal-hal kecil yang berpotensi dianggap sebagai ketabuan atau
ketidakpantasan.
Terakhir, kata sejumlah pembicara yang saya simpulkan: "Jangan
menanyakan honor di depan!" Honor itu kita butuhkan. Ini tentu anda juga
sepakat. Tetapi masalahnya, ketika honor itu kita dahulukan, di sini
muncul masalah etika.
Tip Perbaikan
Ada
sejumlah tip yang perlu kita terapkan sebelum naik bicara. Itu antara
lain:
Pertama, apakah materi yang akan kita jelaskan itu akurat atau belum.
Lebih-lebih jika menyangkut soal angka atau uang. Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pernah diprotes berhari-hari karena (catatan : menurut
versi pemrotes) beliau membacakan data kemiskinan yang tidak akurat.
Kedua,
apakah materi yang akan kita sampaikan itu sudah jelas atau belum. Jelas
di sini artinya menutup celah kesalahpahaman (misunderstanding) atau
salah tafsir (misinterpretation).
Ketiga,
apakah materi yang kita sampaikan itu mengena atau tidak. Mengena di
sini sesuai dengan tujuan. Kalau yang kita maksudkan itu tindakan, ya
perlu diarahkan pada tindakan. Begitu juga kalau yang kita inginkan
adalah penjelasan, pemahaman, pemikiran atau keadaan. Ini perlu kita cek
agar bisa mengena sasaran.
Keempat, apakah cocok dengan keadaan atau tidak. Protes, penolakan
dan reaksi emosional memang kerap kali muncul tetapi hendaknya kita
perlu menyusun materi yang dapat menghindarkan kita dari situasi
demikian. Perlu menyusun materi yang sesuai dengan keadaan. Kalau
perkiraan kita masih fifty-fifty, ya kita perlu persiapan menghadapi
kejutan itu.
Kelima,
apakah materi kita sudah relevan atau belum. Relevan di sini adalah
bermanfaat untuk orang lain. Bermanfaat ini pengertiannya luas tetapi
hendaknya kita perlu mendesain materi setelah mempertimbangkan
kepentingan orang lain, audien.
Keenam,
apakah materi kita sudah simpel atau belum. Kalau masih ruwet, kita
perlu cari akal untuk membuatnya menjadi materi yang mudah dipahami
orang lain. Kata Einstein, sebelum anda menyampaikan teori baru,
jelaskan dulu di depan anak-anak. Kalau mereka tidak paham, teori anda
masih ruwet.
Ketujuh, apakah bahan kita masih mengandung "hidden context" atau
tidak. Hidden context di sini artinya beberapa hal yang masih
tersembunyi (tidak diketahui oleh orang lain) dan bila ini tidak
dijelaskan, akan berpotensi melahirkan pemahaman yang kurang, entah
kurang utuh atau kurang kuat. Mudah-mudahan ini bermanfaat.
*******
|
|